Makhluk yang paradoks, yah...itulah manusia. Kapanpun, manusia pantas disebut dengan paradoks. Manusia dibekali akal dan melalui itulah mereka dibedakan dengan binatang. Namun, karena itulah manusia senantiasa menjadi makhluk yang paradoks. Selalu terjadi pertarungan akal. Sungguh tidak penting memikirkan mana yang kalah dan menang. Semua mengalir bak air sungai yang pada akhirnya akan sampai ke laut luas. Pertarungan akal itu selalu terjadi, tiada akhir. Hal ini karena, manusia pada dasarnya hidup untuk itu saja. Manusia hidup hanya untuk bergulat dengan pikirannya saja, tidak untuk yang lain. Dan hal ini juga menjelaskan mengapa manusia pada akhirnya nanti harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, baik yang terlihat maupun yang tidak.
Jika memang harus terpaksa dikategorikan, manusia sebagai akibat dari pertarungan akalnya akan terbagi pada dua kategori. Pertama, kategori manusia individual. pada kategori ini tentu manusia akan lebih sok menang sendiri, sok tau sendiri, dan sok sok lainnya. Kedua, ketegori manusia yang sosialis. Pada kategori ini, manusia akan lebih malas berinisiatif, bergantung dengan orang lain, manja, dan sosial-sosial lainnya. Namun ada juga manusia yang berada dikedua kategori itu. Ya, dia lah sang "pengabur". Orang yang bisa disebut juga fleksibel, atau tidak jelas, munafik dan sebagainya.
Akal manusia tidak akan pernah diam. Dia terus bergerak, menggelora, dan menyeruakan emosi dan perilaku. Apapun kategori manusianya, baik normal maupun tidak, tetap mereka akan memiliki akal yang andal dalam kehidupannya. Mungkin sekian dari saya. Ini hanya catatan dari renungan saya saja.






