Bosankah membicarakan arah depan negara Indonesia? saya rasa hampir semua pasti bosan. Mengapa demikian? Saya kira, apa yang sering dilontarkan oleh banyak kalangan yang concern kepada masa depan dan kekinian Indonesia merupakan konsep yang hampir rata-rata brilian. Misalnya, terkait dengan masalah proyek subkontraktor dengan kontraktor utama asing dipersyaratkan harus menggunakan kandungan lokal tertentu dengan nilai 23 juta dollar AS, Ardhian Novianto dan Banu Astono dalam "Membongkar Budaya" menawarkan ide "Rebut Kontrol Lokal". Dan masih banyak individu-individu yang menginginkan cerahnya masa depan Indonesia menawarkan konsep-konsep yang brilian. Namun, fakta yang berkembang banyak konsep-konsep yang 'menguap' begitu saja ditimbun dengan konsep baru tanpa ada implementasi yang sesuai. Sehingga saya pribadi berpikir bahwa sepertinya ketidakseimbangan dalam berpikir dan berbuat hampir tidak menjadi kebiasaan masyarakat kita atau telah mewabah atau membudaya.
Hal ini berarti menambah daftar budaya yang dianggap menghambat perkembangan negara, seperti saya yakin kita semua setuju bahwa senioritas (menghormati pemimpin dan penguasa) merupakan hal yang telah membudaya dan banyak yang menganggap menghambat. Dan masih banyak sebutan-sebutan yang memblok perjuangan negara.
Namun disamping ketidaksetujuan mereka yang menganggap senioritas menghambat, sebenarnya itu merupakan keuntungan yang dapat digunakan oleh pemimpin yang sedang berkuasa (siapapun itu) menggerakan massa ke arah yang baik terutama, karena budaya kita yang patuh kepada pemimpin. Seperti Adolf Hitler dengan lontaran kata-katanya di depan masyarakat Nazi (Jerman pada waktu itu) menggerakan nurani rakyatnya mendukung ideologi Nazi, sehingga tidak heran bila muncul jargon "Jerman=Negara Petarung". Secara tidak langsung seorang Adolf Hitler menggunakan kekuatannya untuk membentuk tatanan masyarakat yang dia inginkan.
Power distance merupakan istilah yang digunakan ahli sosial dari negeri kincir angin-Belanda, Geertz Hofstede untuk menyebut fenomena masyarakat Asia. Suatu langkah yang tepat digunakan untuk pemimpin-pemimpin Indonesia untuk menggerakan massa ke arah yang lebih baik. Jadi, dimulai dari 'kepala' bukan 'badan', 'tangan', dan 'kaki'. MERDEKA_Damai dunia!






