Peristiwa yang terjadi 24 Juni 2008 kira-kira pukul 16:00 sore di depan kampus Atmajaya -Sudirman yang membuat kemacetan total di sekitar jalan menuju Sudirman itu banyak mengundang komentar dari banyak kalangan, baik media maupun celotehan masyarakat. Seperti TV One pada pagi esok harinya dengan mengundang perwakilan mahasiswa-Forkot saya lupa namanya. Tentu saja mahasiswa tersebut membela aksi mereka dan beberapa tanggapan pemirsa hampir rata-rata tidak setuju dengan aksi mahasiswa yang dianggap terlalu berlebihan. Pada saat saya menonton acara tersebut, saya kepingin sekali berkomentar tapi no telfonnya tidak ditampilkan. Yah..terpaksa saya pendam. Namun ketimbang saya pendam mending saya utarakan melalui Blog ini.
Menurut saya yang awam dalam hal tersebut, aksi dari mahasiswa yang mengatas namakan rakyat tersebut rindu saya nantikan. Yah..memang banyak aksi yang memprotes kebijakan pemerintah sebelumnya, namun tidak seperti kejadian Mei 1998. Eh.. muncul kembali!!
Entah saya mau mulai dari mana tulisan ini, saya seperti berada di dua arus yang berbeda. Baiklah saya coba.
Saya menganggap wajar aksi yang dilakukan mahasiwa itu terjadi, kenapa? Karena bila bukan mereka yang memulai siapa yang memulai? Saya pribadi misalnya, saya pekerja, selalu disibukkan dengan pekerjaan, pulang kerja istirahat, dst. Atau teman-teman yang dari bermacam-macam kalangan (ibu rumah tangga-buruh-OB-Pengusaha-dll) mereka semua sudah merasa menempati posisi aman atau bahasa kerennya balancing circcum. Biar negara sedang terombang ambing mereka tetap menjadi individu yang tercerai berai dengan berharap pada posisi amanya. Saya kira mahasiswa yang beraksi kemarin berani keluar dari dari posisi aman mereka ke jalur yang mereka sepakati bersama, yah keinginan diluarnya sih "turunkan BBM", saya nggak tau sebenarnya motif sebenarnya. Terlepas dari ketepatan motif, imbas dari aksi tersebut terhadap pemerintah adalah sebagai reminder (pengingat) bahwa meski pada era reformasi (katanya) masih ada segelintir rakyat yang memiliki harapan besar terhadap pemerintah.
Bila aksi tersebut dibilang anarkis, saya kira ya bila dilihat dari hasil kerusakan dan gangguan umum yang dihasilkan (mobil dibakar, jalan macet, orang tegang, dsb). Namun bila dilihat dari maksud dari pengrusakkan, saya kira mereka berani..sangat berani. Saya berkata seperti ini bukan berarti saya dari kalangan mereka. Melainkan dari dorongan hati saya yang menganggap hal itu atau keberadaan mereka merupakan penyeimbang dari kehidupan bernegara kita. Ini menurut saya, Kalau ANDA?????
Menurut saya yang awam dalam hal tersebut, aksi dari mahasiswa yang mengatas namakan rakyat tersebut rindu saya nantikan. Yah..memang banyak aksi yang memprotes kebijakan pemerintah sebelumnya, namun tidak seperti kejadian Mei 1998. Eh.. muncul kembali!!
Entah saya mau mulai dari mana tulisan ini, saya seperti berada di dua arus yang berbeda. Baiklah saya coba.
Saya menganggap wajar aksi yang dilakukan mahasiwa itu terjadi, kenapa? Karena bila bukan mereka yang memulai siapa yang memulai? Saya pribadi misalnya, saya pekerja, selalu disibukkan dengan pekerjaan, pulang kerja istirahat, dst. Atau teman-teman yang dari bermacam-macam kalangan (ibu rumah tangga-buruh-OB-Pengusaha-dll) mereka semua sudah merasa menempati posisi aman atau bahasa kerennya balancing circcum. Biar negara sedang terombang ambing mereka tetap menjadi individu yang tercerai berai dengan berharap pada posisi amanya. Saya kira mahasiswa yang beraksi kemarin berani keluar dari dari posisi aman mereka ke jalur yang mereka sepakati bersama, yah keinginan diluarnya sih "turunkan BBM", saya nggak tau sebenarnya motif sebenarnya. Terlepas dari ketepatan motif, imbas dari aksi tersebut terhadap pemerintah adalah sebagai reminder (pengingat) bahwa meski pada era reformasi (katanya) masih ada segelintir rakyat yang memiliki harapan besar terhadap pemerintah.
Bila aksi tersebut dibilang anarkis, saya kira ya bila dilihat dari hasil kerusakan dan gangguan umum yang dihasilkan (mobil dibakar, jalan macet, orang tegang, dsb). Namun bila dilihat dari maksud dari pengrusakkan, saya kira mereka berani..sangat berani. Saya berkata seperti ini bukan berarti saya dari kalangan mereka. Melainkan dari dorongan hati saya yang menganggap hal itu atau keberadaan mereka merupakan penyeimbang dari kehidupan bernegara kita. Ini menurut saya, Kalau ANDA?????






